Makalah teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling
MAKALAH
TEKNOLOGI INFORMASI BIMBINGAN KONSELING
DISUSUN OLEH :
NAMA : CITRA IRMAYATI SOLOT
NIM : 2017-39-024
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-NYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan bantuan pikiran dan saran.Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Ambon,13 Desember 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………...DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………..…………………
Latar Belakang ...…………………………………………………………...……...
Rumusan Masalah ...…..…………………………………………………………..
Tujuan Penulis ......………………………………………………………………...
BAB II PEMBAHASAN ……..……………………………………………………………
BAB III PENUTUP …………………...…...………………………………………………
Kesimpulan ……………………..………………………………………………….
DAFTRA PUSTAKA ……………...………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar BelakangBerkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan perwujudan terjadinya perubahan kearah positif budaya yang dimiliki oleh manusia. Hal ini didasari pada sebuah keyakinan bahwa setiap hasil dari daya yang dimiliki manusia baik cipta, rasa, karsa dan karya yang dikatakan sebagai sebuah budaya dalam wujud teknologi akan meningkatkan produktifitas kerja manusia. Dikatakan demikian karena teknologi tercipta sedianya akan mempermudah serta meningkatkan efektifitas kerja manusia, sehingga manusia menjadi lebih produktif dalam bekerja. Teknologi juga dapat dikatakan sebagai hasil budaya manusia karena merupakan hasil dari gagasan manusia yang akhirnya melahirkan sebuah karya dan dapat menunjang kehidupan manusia. Salah satu bidang kehidupan manusia yang saat ini sedang giat dalam menempatkan teknologi sebagai bagian penting dari proses dan program kerjanya adalah bidang pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu bidang yang mencoba meningkatkan peranan teknologi sebagai salah satu penunjang proses peningkatan efektifitas hasil kerja melalui optimalisasi serapan peserta didik terhadap materi pembelajaran dan pendidikan. Salah satunya diwujudkan dengan pemanfaatan media-media pembelajaran berbasis komputer yang diharapkan dapat menarik minat dan memotivasi peserta didik dalam pembelajaran. Seperti dengan mulai diterapkannnya pembelajaran berbasis multimedia, e-learning serta pemanfaatan beberapa aplikasi computer dalam pembelajaran. Selain itu kini juga semakin marak situs-situs internet yang menyediakan berbagai materi pelajaran yang dapat diakses gratis maupun berbayar yang dapat menunjang ketercapaian target kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik/ siswa.
Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral pendidikan juga tak luput dari sentuhan-sentuhan teknologi dalam pelaksanannya. Semakin ditegaskannya peranan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan nasional melalui UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional serta penegasan profesi bimbingan dan konseling dalam tatanan pedidikan formal (Abkin, 2008) seharusnya menjadi rujukan utama para konselor1[2] dalam mengoptimalkan peranan teknologi dalam setiap layanan yang diberikan, baik itu secara klasikal, kelompok maupun dengan format individual. Sehingga proses pelayanan bimbingan dan konseling yang diharapkan dapat memandirikan siswa dapat secara optimal tercapai melalui alat bantu maupun layanan-layanan yang berbasis penggunaan teknologi informasi.
B. Rumusan Masalah
Apa dan bagaimana sebenarnya peranan teknologi serta sejauh mana manfaatnya dalam bimbingan dan konseling baik bagi konselor maupun siswa, akan dibahas dalam makalah ini. C. Tujuan Penulis
Agar siswa maupun guru BK atau konselor dapat mengetahui apa itu teknologi informasi di dalam bimbingan konseling
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teknologi Informasi Sebagai Bentuk Budaya ManusiaTeknologi informasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan item peralatan (hardware) dan program komputer (software) yang memungkinkan kita untuk mengakses, menyimpan, mengorganisir, memanipulasi, dan menyajikan informasi dengan cara elektronik3[4]. Dengan demikian apapun informasi yang didapat oleh manusia dapat diproses dengan menggunakan teknologi informasi sehingga dapat memiliki nilai tambah terutama dari segi manfaat bagi manusia. Teknologi informasi merupakan sebuah perwujudan materil hasil dari sebuah gagasan yang dimiliki manusia dalam mencari cara mempermudah manusia dalam bekerja. Dari sebuah tindakan dengan berbagai penelitian dan percobaan-percobaan kemudian dihasilkanlah sebuah metode atau cara dengan menggunakan alat elektronik (komputer, hand phone, modem, dsb.) untuk mengolah informasi yang didapatkan. Hal inilah yang menjadi bahan rujukan bahwa teknologi informasi merupakan wujud hasil budaya manusia. Alat-alat ini akan mempermudah, mengefektifkan serta meningkatkan efisiensi kerja manusia sehingga lebih produktif dalam bekerja. Sebagai hasil budaya yang selayaknya dapat membantu mempermudah kerja manusia, teknologi selayaknya menjadi enabler dimana yang seharusnya tidak ada, dengan adanya teknologi bisa diwujudkan keberadannya4[5]. Seperti kesulitan menemukan bibit padi yang unggul, dengan adanya teknologi rekayasa geneTIa maka dimungkinkan diciptakannya bibit padi berkualitas terbaik. Dalam bidang-bidang yang lain, teknologi juga diharapkan memliki peran yang sama besarnya seperti yang dijelaskan diatas. Terutama dalam dunia pendidikan dimana diharapkan dengan adanya perkembangan teknologi informasi diikuti pula dengan munculnya inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran. Sehingga, pada akhirnya upaya optimalisasi potensi peserta didik dapat tercapai dengan baik.
B. Peranan Teknologi Informasi Dalam Pendidikan
Asumsi Dasar Pemanfaatan Teknologi Informasi di Dunia Pendidikan
Teknologi informasi dalam pendidikan mencakup setiap kemungkinan sarana (alat) yang dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam pendidikan dan latihan. Ellington (1989) menyatakan bahwa teknologi dalam pendidikan pada dasarnya adalah apa yang oleh teknologi pendidikan dipopulerkan dengan nama alat bantu pandang dengar (audiovisual aid). Selanjutnya dikembangkan dalam pembelajaran untuk pencapaian tujuan pembelajaran tertentu. Teknologi dalam pendidikan merupakan perpaduan Aspek Teoritis Dalam Pendidikan, Aspek Perangkat Keras (komponen yang saling bergantung tetapi tidak berbeda satu sama lainnya) dan Aspek Perangakat Lunak (berkenaan dengan benda yang dipakai pada perangkat keras). “Technology is a tool. A Means to the end. Not the end in itself (anonymous).” Dalam konteks pendidikan, sesungguhnya peran TI adalah sebagai “enabler” atau alat untuk memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien serta menyenangkan. TI adalah sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Dengan demikian, bila dilihat dari sisi peran TI bagi guru, maka eLearning yang sesungguhnya adalah pemanfaatan TI secara relevan dan tepat oleh guru untuk memungkinkan dirinya:
a. menjadi fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar.
b. dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada siswa untuk mengalami peristiwa belajar. Jika, pemanfaatan TI oleh guru bertujuan hanya untuk mempermudah dirinya menyampaikan materi, dimana ia sebagai satusatunya sumber informasi dan sumber segala jawaban, maka empat keterampilan masyarakat abad 21 yang dicanangkan PBB di atas tidak akan berhasil. (adaptasi dari Division of Higher Education, UNESCO, 2002). Sementara itu, bila dilihat dari sisi peran TI bagi siswa, maka e-learning yang sesungguhnya adalah pemanfaatan TI secara relevan dan tepat oleh guru untuk memungkinkan siswa:
menjadi partisipan aktif. Jika pemanfaatan TI dalam pembelajaran masih membuat siswa tetap pasif, seperti guru mengajar dengan menggunakan slide presentasi dimana yang masih dominan adalah dirinya, maka sia-sialah teknologi tersebut digunakan.
menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan serta berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli.
belajar secara kolaboratif dengan siswa lain.
C. Pemanfaatan TI Sebagai Wujud Reformasi Pembelajaran
Berkembangnya pemikiran-pemikiran tentang sistem pendidikan atau model pembelajaran yang terbaik untuk masa depan yang didahului dengan berkembangnya teori dan pengetahuan mengenai otak dan kecerdasan manusia pada dasarnya merupakan dinamika dari obsesi untuk menggelar reformasi pembelajaran (school reform). Amerika Serikat, sebagai sebuah negara yang sering dijadikan ukuran dalam kemajuan di berbagai bidang, sudah mulai merasakan kebutuhan akan school reform, bahkan education reform, sejak akhir 1980-an. Saat itu, masyarakat Amerika menganggap sistem pendidikan yang tengah berlaku tidak mampu lagi mengikuti kemajuan bidang-bidang lainnya, khususnya dunia kerja (bisnis) (Means, 1993). Keinginan untuk melakukan perubahan fundamental dan inovasi sebagai upaya reformasi pendidikan didukung oleh banyak pihak yang berkepentingan (stake holders) seperti para gubernur dan legislator, koalisi-koalisi bisnis, dan juga para pendidik termasuk asosiasi guru, lembaga-lembaga pendidikan, dan para administrator sekolah. Selanjutnya, merebaklah perdebatan serius di antara para pendidik, penentu kebijakan, dan warga negara, mengenai bentuk reformasi struktural yang paling ideal. Dari teori-teori yang berkembang dan praktik-praktik di berbagai negara, dan dalam rangka melaksanakan gerakan pembaruan pendidikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada dua aspek pembaruan yang penting, sebagai berikut:
1. Pembaruan pendekatan pembelajaran, yang menyangkut esensi, materi dan metode pembelajaran. Pembaruan ini dilantari oleh berbagai temuan/teori/konsep baru yang berkembang mengenai otak dan kecerdasan, dan dipicu oleh perubahan multidimensional dalam lingkungan hidup dan kehidupan yang menuntut komitmen dan kemampuan manusia (SDM) yang makin tinggi.
Pemanfaatan teknologi informasi/komunikasi yang sudah sedemikian canggih untuk menunjang keberhasilan pembaruan strategi dan teknik pembelajaran. Kedua aspek pembaruan tersebut menyatu dalam semangat dan misi untuk melakukan reformasi pembelajaran (school reform), bahkan reformasi pendidikan (education reform). Reformasi ini niscaya melibatkan aspek-aspek yang lebih luas, seperti pembaruan kelembagaan, peraturan/legislasi, manajemen, pembiayaan, dan sumber daya manusia. Semua ini hanya dapat dilakukan dengan landasan komitmen politik (political will) negara untuk memajukan pendidikan. Salah satu upaya fundamental yang mulai dirintis oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini adalah Kementrian Pendidikan Nasional atau sekarang telah berganti menjadi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah mulai dirancangnya peningkatan peranan teknologi dalam proses pembelajaran. Hal ini dituangkan dalam Rencana Strategis Kemetrian Pendiikan Nasional Tahun 2010 – 2014 dimana peningkatan sistem tata kelola yang handal tentunya didukung dengan adanya peningkatan kualitas pengguaan teknologi informasi dalam pengelolaan manajemen instansi pendidikan.
ICT (Information Comunication Technology) kini telah menjadi poin penting dalam program pengembangan pendidikan nasional. Dalam rencana strategis kementrian pendidikan nasional 2005 - 2009 juga telah dirumuskan bahwa pengembangan dan pemanfaatan ICT untuk mendukung peningkatan peran dan fungsi pelayanan pendidikan. Sistem yang dikembangkan diusahakan untuk dapat memenuhi dua hal, yaitu (a) kebutuhan manajemen atas sistem pendataan dan informasi yang akurat, mutakhir (uptodate) , dan mudah diakses; (b) kebutuhan masyarakat atas data dan informasi pelayanan pendidikan. Beberapa kegiatan yang sifatnya pengembangan dan pemanfaatan ICT, antara lain sebagai berikut (1) merancang dan mengimplementasikan sistem jaringan pendidikan nasional (Jardiknas), yang mencakup jaringan intranet dan internet, yang terhubung ke semua unit utama dan unit kerja Depdiknas di pusat, dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten/kota, satuan pendidikan/sekolah, UPT pendidikan lainnya dengan pusat data dan aplikasi/IDC (Information Databse Center), (2) merancang dan membuat aplikasi pangkalan data (database) yang menyimpan dan pengolah data dan informasi sistem dan prosedur keuangan, sistem perencanaan dan sistem monitoring, sistem kepegawaian, sistem pengawasan internal, sistem aset, sistem nomor pokok sekolah nasional (NPSN), sistem nomor induk siswa nasional (NISN), sistem nomor induk mahasiswa, sistem nomor induk guru nasional (NIGN), sistem nomor induk dosen, dan konten-konten pembelajaran lainnya; (3) menyediakan dan meningkatkan pemanfaatan TV edukasi sebagai materi pengayaan dalam rangka menunjang peningkatan mutu pendidikan; dan (4) memfasilitasi pengumpulan/pemanfaatan media massa guna peningkatan proses pembelajaran dan pengajaran. Selain itu juga akan dilakukan penataan sistem dan mekanisme inventarisasi dan dokumentasi sarana,prasarana dan aset pendidikan, termasuk pengelolaan dokumen dan arsip Depdiknas yang saat ini mengadapi kesulitan. Kegiatan ini dapat memanfaatkan peran TIK yang dapat mentransformasikan pendataan dan kearsipan konvensional ke sistem digital (Kemendiknas. 2005: 60).
Dengan adanya peningkatan peran TI serta peningkatan kualitas pendayagunaan TI terutama dalam proses pembelajaran diharapkan dapat melahirkan inovasi-inovasi baru serta semakin variatifnya metode pembelajaran. Sehingga, metode pembelajaran konvesnsional yang dikatakan menjenuhkan dan cenderung kurang aspiratif dapat segera terreformasi melalui penggunaan media TI. Media serta metode pembelajaran yang variatif dan inovatif secara linear juga berdampak pada daya serap peserta didik terhadap materi belajar. Hal ini lebih dilator belakangi oleh minat yang meningkat serta peningkatan interaktifitas proses pembelajaran yang akan memfasilitasi potensi berkembang dari setiap peserta didik. Melalui media-media interaktif pembelajaran berbasik TI inilah diharapkan hal-hal semacam ini muncul. Sehingga pemanfaatan TI sebagai media reformasi pembelajaran tentu hal yang patut menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan kurikulum serta teknik dan metode mendidik para peserta didik.
D. Teknologi Informasi Dan Peranannya Dalam Bimbingan Dan Konselin
Gambaran Umum dan Penyebab Perlunya Pemanfaatan Tekologi Informasi dalam
Layanan Bimbingan dan Konseling
Bimbigan konseling sebagai bagian integral dari pelayanan pendidikan juga tak luput dari sentuhan – sentuhan peningkatan peran TI. Sesuai dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi, bimbingan konseling adalah salah satu wadah bagi proses pengembangan diri siswa dimana konselor sebagai petugas bimbingan konseling yang akan membantu memfasilitasi perkembangan siswa secara optimal. Ditegaskan pula dalam pasal 1 poin ke-6, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa konselor adalah bagian dari tenaga pendidik yang harus turut serta berpartisipasi dalam mewujudkan terselenggaranya pelayanan pendidikan yang berkualitas.
Upaya komputerisasi pelayanan bimbingan konseling sudah mulai dikembangkan beberapa tahun terakhir. Di kancah internasional, beberapa jurnal ilmiah telah membahas tentang hal ini. Beberapa judul jurnal ilmiah seperti “A School Counseling Program CD-ROM To Foster Family Midle School Engagement5[6]” telah mengulas bagaimana penggunaan media berbasis CDROM untuk membantu permasalahan keluarga. Dalam judul lain “e-Guidance & Virtual career development6[7]” dimana ide utamaya adalah meberikan pelayanan bimbingan karier untuk mengembangkan karier dengan bantuan media ICT. Selanjutnya dalam “ICT for Counseling and Careers Guidance Services7[8]”, dijelaskan bahwa pemanfaatan ICT dapat membantu konselor dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan karier bagi klien.
E. Tujuan Digunakannya TI dalam Bimbingan dan Konseling
Pada umumnya bimbingan dan konseling dengan memanfaakan TI memiliki tujuan umum bimbingan dan konseling yaitu membantu siswa/ peserta didik memperoleh kehidupan yang membahagiakan serta berkembangnya potensi secara optima melalui layanan bimbingan dan konsleing. Namun, secara lebih spesifik bimbingan dan konseling mmemiliki tujuan sebagai berikut :
Untuk mempermudah konselor dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik. Kemudahan akses dan penyimpanan serta pengolahan data yang didapat melalui penggunaan TI menjadi alasan utama mudahnya konselor dalam memberikan layanan bagi peserta didik.
Memberikan alat bantu baik bagi siswa maupun konselor dalam upaya melakukan investigasi tentang minat, bakat, serta pilihan – pilihan karir, statistik pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan untuk memperoleh capaian karir tertentu serta mengintai kesempatan yang bisa didapat.
Membantu siswa dalam mencapai kesadaran diri, melakukan eksplorasi diri, memecahkan masalah – masalah pribadi serta sosial dan mengembangkan keterampilan dalam mengambil keputusan dalam setiap masalah yang dihadapi.
Untuk meningkatkan minat atau daya tarik siswa terhadap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan oleh konselor. Melalui perangkat multimedia yang disajikan oleh konselor siswa akan tertarik untuk memahami materi layanan yang tentunya penting bagi perkembangannya dalam menjalani kehidupan secara mandiri.
Mempermudah akses siswa dalam memperoleh layanan bimbingan dan konsleling serta berbagai macam sumber informasi yang penting bagi pengenbangan diri siswa.
Tujuan-tujuan diatas akan tercapai jika saja sistem serta manajemen instansi pendidikan memberikan dukungan penuh bagi para konselor di lapangan dengan memberikan sarana dan pra-sarana yang dibutuhkan. Selain itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia BK (Konselor) terutama yang berkaitan dalam penggunaan alat berteknologi tinggi baik software maupun hardware juga sangat dibutuhkan.
Metode Penggunaan TI dalam BK
Pemanfaatan TI dalam berbagai kesempatan layanan bimbingan dan konseling, pada umumnya menggunakan dua metode yaitu:
Online
Kata online diartikan adalah sebagai komputer atau perangkat yang terhubung ke jaringan (seperti Internet) dan siap untuk digunakan (atau digunakan oleh) komputer atau perangkat lain. Dengan kata lain, online juga mengandung arti hubungan telekomunikasi peer to peer yang membuat dua manusia terhubung. E-counseling adalah istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan proses konseling secara online11[12]. Layanan ini merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh konselor dalam mengurangi masalah yang dihadapi oleh klien. Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, hal Ini merupakan tantangan bagi konselor, sehingga konselor secara otomatis dituntut untuk berpartisipasi dan menguasainya, kondisi ini memungkin pelaksanaan konseling tidak hanya dilakukan tatap muka di ruang tertutup, tetapi dapat dilakukan melalui format jarak jauh.
Beberapa cara yang bisa digunakan antara lain adalah:
Web Blog sebagai penyedia informasi bagi peserta didik tentang segala hal yang dibutuhkan dalam mengembangkan dirinya.
Chatting, metode ini biasanya digunakan untuk konseling jarak jauh yang memerlukan penanganan segera namun terhalang jarak dan waktu.
E-mail, surat elektronik sekarang menjadi trend karena media yang dianggap cepat dan terjaga privasinya untuk menyampaikan aspirasi maupun curahan hati kepada konselor.
Short Message Service (SMS), adalah media yang paling digemari karena semakin terjangkaunya perangkat yang dibutuhkan guna tersampaikannya pesan yang dingin disampaikan dari siswa pada konselor maupun sebaliknya.
Telephone, sama seperti chatting media ini juga sering digunakan sebagai media konseling secara langsung terutama dengan mulai adanya teknologi video call yang dapat menampilkan ekspresi wajah siswa dalam konseling.
Beberapa metode diatas dapat dijalankan jika tersedia perangkat berupa HP/ Telepone, PC (Personal Computer), laptop modem dan beberapa sarana pendukung yang lain seperti koneksi internet dan headphone.
Offline
Penggunaan teknologi dalam layanan bimbingan dan konseling dengan mode offline (tidak tersambung dengan ineternet maupun media komunikasi jarak jauh yang lain) lebih pada pemanfaatan komputer sebagai media pengolah data serta alat bantu dalam layanan bimbingan dan konseling mislanya dengan menggunakan beberapa program komputer seperti Microsoft power point, video player dan beberapa media interkatif lain dalam melayani siswa. Selain itu, beberapa program pengolah data seperti micdrosoft excel dan microsoft access serta visual basic kini tersedia terutama dalam membantu konselor dalam menampilkan layanan yang prima terhadap peserta didik.
Berbagai Produk TI dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Produk teknologi informasi yang umumnya dipakai dalam bimbingan dan konseling adalah berbagai program komputer yang dapat dijadikan sebagai alat bantu pelayanan. Baik yang sifatnya sebagai pengolah data maupun sebagai media pelayanan langsung untuk peserta didik.
Beberapa program yang dimaksud antara lain sebagai berikut:
Media berbasis Power Point
Media yang disusun dengan basic power point biasanya adalah materi presentasi materi layanan bimbingan dan konseling. Baik yang sifatnya ice breaking maupun yang penuh dengan materi yang harus dipahami dan dikuasai peserta didik dalam berkembang mencapai tujuan dan cita-cita pendidikannya secara optimal.
Media berbasis Microsoft Excel
Media berbasis Microsoft Excel biasanya digunakan dalam mengolah dan menganalisis data sebagai sumber informasi utama dalam memberikan layanan kepada peserta didik. Banyak dari program-program komputer yang menggunakan excel kini mendapatkan sambutan positif dari konselor sebagai pengguna.
Aplikasi dengan Software Developer lain.
Selain dengan perangkat program Excel, telah disusun pula program pendukung BK yang lain dengan basis visual basic (VB), C++ dan Delphi dengan orientasi sama, yaitu mempermudah konselor dalam menganalisis perkembangan siswa. Beberapa program itu ada yang buatan dalam negeri ada pula yang produk luar negeri.
BAB III
PENUTUP
Sebagai penutup penulis hanya ingin berpesan bahwa Teknologi Informasi sebagai manifestasi dari hasil budaya manusia adalah hal yang bisa membantu mempermudah kehidupan manusia. Menjadi penting untuk digunakan dalam bimbingan dan konseling karena tuntutan profesional konselor harus bisa menampilkan kinerja yang efisien dan efektif dalam memberikan layanan pada peserta didik. Sehingga potensi kemudahan yang dijanjikan oleh TI layak dipertimbangkan untuk meningkatkan produktifitas layanan serta kualitas layanan yang
diberikan kepada peserta didik.

Komentar
Posting Komentar